Layanan anti plagiarisme yang terjangkau

Reading Time: 3 minutes

Mendeteksi plagiarisme melalui metode mendeteksi kemiripan suatu karya dengan karya yang lain merupakan sebuah standar di dunia akademik. Khususnya saat sebuah institusi berusaha mendapatkan sebuah kepercayaan terhadap publik. Institusi ini tidak terbatas pada dunia pendidikan saja, misalkan dunia berita, dunia layanan publik, dan dunia riset.

Di Indonesia saat ini belum ada sebuah panduan yang menjadi major stream mengenai alat pendeteksi plagiarisme. Padahal menurut data di kementrian pendidikan, jumlah kampus sudah mencapai lebih dari 4500 an di Indonesia. Dengan jumlah mahasiswa yang mencapai di atas 5 juta. Bila dilihat secara kasar saja maka setiap tahun akan ada lebih dari 500 ribu karya ilmiah dalam bentuk skripsi, thesis, dan disertasi yang diproduksi oleh universitas tersebut.

Tantangan yang kemudian muncul adalah, bagaimana dengan kemampuan dalam mendeteksi plagiarisme dari tiap karya tersebut. Alih alih menciptakan sebuah karya yang orisinal, sistem untuk mendeteksi kemiripan karya ilmiah yang satu dengan yang lain saja belum tentu ada. Bisa dibayangkan tidak semisal di dunia ini ada sebuah sistem yang dapat merangkum berbagai karya ilmiah yang ada. Kemduian output dari sistem ini adalah sebuah judul dan isi dari sebuah karya ilmiah yang benar benar baru dan belum pernah diteliti. Sangat menarik! Kenapa kemudian saya katakan di dunia, ya karena pada dasarnya belum ada.

Untuk sistem pendeteksi plagiarisme saat ini ada banyak beberapa software yang dapat digunakan di antaranya yang paling terkenal adalah grammarly, turnitin dan antiplagiat. Kemampuan dari sistem yang saya sebutkan di atas cukup impresif, seperti bisa mendeteksi kemiripan hingga ke level paragraf dari sebuah karya ilmiah. Bahkan saya mendengar ada yang bisa mendeteksi hingga ke tataran konsep. Namun dari sekian banyak sistem anti plagiarisme tadi mereka masih membandingkan dengan sumber yang ada di internet, dan bukan dari sistem repository di universitas universitas yang ada di Indonesia. Kelemahan kedua adalah sistem mereka kebanyakan masih berorientasi ke bahasa inggris saja. Dan kelemahan ketiga adalah sistem tersebut sangat mahal. Saya sempat dengar dengan sistem ini sebuah universitas harus mengeluarkan kocek sebesar 1 Milliar rupiah, benar atau tidaknya berita ini agak sulit di cross check karena sifat deal ini dirahasiakan.

Melihat tantangan ini, sebenarnya semenjak tahun 2008, saya dan rekan sudah mempersiapkan sebuah sistem anti plagiarisme yang bernama tessy. Penamaan ini juga tidak lepas dari trend pada jaman itu, yaitu pelawak yang sangat terkenal bernama Kabul Tessy. Mungkin selain nama tessy saat itu sangat populer kita juga ingin menyentil budaya plagiarisme itu layak untuk disentil. Perkembangan Tessy sendiri akhirnya berlanjut hingga ke versi 3 ini dengan beralih ke sistem web dan platform dengan Yii Php. Meski Tessy bisa dikatakan belum secanggih dengan pesaing pesaingnya namun ada beberapa hal yang Tessy miliki dan tidak dimiliki oleh pesaingnya. Yang pertama Tessy sudah memiliki repository beberapa universitas besar di Indonesia. Seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Walisongo, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Islam Raden Fatah, Universitas Trunojoyo Madura. Saat ini tessy sedang dalam penjajakan dengan universitas Airlangga juga. Kelebihan kedua selain repository kampus besar tadi TESSY juga memiliki history dari proses yang dikerjakan, sehingga apabila hasil pendeteksian masih kurang akurat maka user dapat mengulanginya lagi. Kelebihan ketiga adalah TESSY juga bisa mendeteksi sumber sumber dari berbagai info di jagat internet seperti wikipedia dan rekan rekannya. Dan kelebihan keempat atau paling pamungkas adalah tessy harganya masih sangat terjangkau, bahkan untuk sesi trial kali ini bisa dilakukan secara gratis dengan mendaftarkan akun anda melalui user facebook anda. Melihat semua hal tersebut maka tidak ada alasan lagi untuk tidak mencoba.

Perkembangan tessy versi 3 ini juga mendapatkan sambutan hangat dan sangat membanggakan dari salah satu stakeholder yang sangat concern terhadap perkembangan startup di Indonesia. Telkom melalui program Indigo nya mencoba untuk menjembatani perkembangan startup di Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

For more informal content please visit http://notafra.id

Icons made by Popcorn arts from www.flaticon.com is licensed by CC 3.0 BY

 

Please follow and like us: