One of the best strategi in Marketing, words of mouth

Reading Time: 2 minutes

Sering melintas di benak kita, kenapa produk atau sebuah campaign dari kegiatan pemasaran bisa begitu viral*. Misal kalau di Indonesia iklan penurun turun panas, di mana salah satu adegan menanyakan, Bu Joko Bu Joko, apakah Bu Joko memiliki termos es. Saya bahkan sudah lupa nama produknya apa tapi iklan ini begitu membekas di benak saya.

Hal lain adalah, adalah nama. Nama Nicholas dan Kevin adalah dua nama yang dua duanya tidak asli Indonesia. Tapi mengapa lebih banyak dari kita mengenal Kevin ketimbang Nicholas. Kalaupun ada kenalan kita bernama Nicholas pasti lebih banyak yang bernama Kevin. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tiap nama memiliki kekuatan marketing yang berbeda. Kalau anda baru saja selesai melihat film yang sedang nge hits di tahun 2017. Bagaimana si Ray Kroc yang berjasa mempopulerkan waralaba McDonald lebih memilih nama McDonald ketimbang nama dirinya sendiri. Si Doi bilang kalau nama Kroc itu lebih berbau Amerika, berbau kebebasan, berbau keluarga the open drive sky country lah. Nama restoran McDonald di tahun 60an itu juga menyebar sangat cepat dan di tahun 80 an Ray Kroc memiliki pendapatan revenue 700 juta dollar USD per tahun.

Ray Kroc
McDonald’s founder [pict from Investor Daily]
Pertanyaannya adalah, kenapa sebuah cerita bisa menyebar dengan sangat cepat. Apakah orang menggunakan media online. Jawabannya bukan itu, terlebih di tahun 80 an belum ada media online juga. Kemudian apakah saat ini dengan adanya fitur share di facebook dan twitter kemudian cerita berubah? Tidak juga, riset dari Jonah Berger di tahun 2016 menyatakan bahwa orang share sesuatu di media sosial dan berdampak pada eksekusi pembelian adalah 7 persent. Artinya 93 persen dilakukan di luar media online.

Jawaban mengapa sesuatu bisa viral menurut Jonah Berger dalam bukunya Contagious, why things catch on ternyata adalah word of mouth atau dalam bahasa kita adalah dari mulut ke mulut. Pertanyaannya kenapa, karena perbincangan mulut ke mulut adalah

Persuasif

Orang yang memiliki pengalaman buruk terhadap suatu produk tidak akan mempromosikan produk tersebut. Konsumen yang memiliki pengalaman tidak menyenangkan biasanya akan menyimpan untuk dirinya sendiri. Atau bahkan promo yang diberikan akan kontra produktif. Oleh karena itu Word to mouth biasaya memiliki persentase eksekusi pembelian atau penggunaan produk yang lebih tinggi.

Selektif

Word to mouth biasanya juga sangat selektif dalam hal penyebarannya. Tidak mungkin kita mempromosikan kolam pemancingan pada rekan yang melihat ikan aja takut. Oleh karena itu sebuah biaya marketing menjadi sangat efektif dalam kegiatan word to mouth ini. Maka tidak heran kalau banyak app memberikan fitur gratis kepada konsumennya. Seperti uber yang memberikan es krim gratis, Gojek yang memiliki sistem poin, Brainly yang memiliki tutorial gratis, dan Tessy.id yang memberikan tes plagiarisme secara gratis.

Nah sudah tahu kan! Hari ini sampai sekian dulu ya! Nanti kita belajar bareng lagi!

*viral dalam konteks komunikasi artinya menyebar secara cepat, seperti analogi virus tapi dalam hal ini pesan yang menyebar cepat.

Please follow and like us:
  • Dimas Tjitrodimedjo

    Up Up UP!